Senin, 28 Mei 2018

Remaja Ini Jadi Pengtest Security Google dan Bayarannya Gila!

ARSPuja Labs - Remaja Ini Jadi Pengtest Security Google dan Bayarannya Gila!

Seorang remaja menemukan celah keamanan di Google sehingga ia diganjar cukup banyak uang dari raksasa internet tersebut. Besarnya USD 36 ribu atau di kisaran Rp 506 juta.

Sang remaja yang berusia 18 tahun bernama Ezequiel Pereira asal Uruguay. Ini bukan pertama kali dia berhasil menemukan celah keamanan Google. Tahun lalu, ia mendapat USD 10 ribu karena prestasi yang sama. Celah baru yang ditemukannya memungkinkan dia mengubah sistem internal Google.


source: wsbtv.com


Dikutip detikINET dari CNBC, Pereira memang sudah akrab dengan komputer sejak muda. Ia dibelikan komputer pertamanya pada umur 10 tahun dan mengikuti kelas pemrograman pada usia baru 11 tahun.

Pada tahun 2016, dia berhasil memenangkan kontes coding dengan hadiah jalan-jalan ke markas besar Google yang terletak di Mountain View, California. Memang dasarnya ia remaja yang pintar dan tekun.

"Dulu aku pertama kali diganjar USD 500 dan terasa menyenangkan. Jadi aku memutuskan terus mencoba (menemukan celah-red) sejak saat itu," kata dia.

Total ia sudah lima kali menemukan celah keamanan Google yang saat ini sudah diperbaiki. Tapi yang terakhir ini memberinya uang hadiah paling banyak.

Saat ini, Pereira mulai kuliah teknik komputer di Montevideo. Namun ia ingin mengajukan beasiswa agar bisa bersekolah di Amerika Serikat.

Sejak keberhasilannya menemukan bermacam celah keamanan di Google, nama Pereria makin dikenal dan banyak yang mengiriminya email. Ada yang meminta nasihat darinya ataupun menawari pekerjaan.

Berbagai perusahaan teknologi seperti Google memiliki program yang dijuluki bug bounty ini. Intinya, masyarakat umum boleh mencari celah keamanan di perusahaan itu dan jika terbukti sahih, maka akan mendapatkan imbalan uang.

Referensi:
https://inet.detik.com/cyberlife/d-4041712/temukan-kelemahan-google-remaja-ini-diganjar-rp-506-juta

Jumat, 18 Mei 2018

Chipset Android Things Sedang Diproses Oleh Google dan MediaTek

ARSPuja Labs - Chipset Android Things Sedang Diproses Oleh Google dan MediaTek

Google dan MediaTek diketahui tengah bekerja sama membesut chipset khusus untuk perangkat Internet of Things (IoT) Android Things.


source: .beritateknologi.com


Kabarnya, chipset tersebut akan meluncur pada pertengahan 2018 bersamaan dengan perilisan Android Things versi 1.0.

Dilansir DigiTimes, Kamis (17/5/2018), untuk mempercepat pengembangan dan produksi perangkat Android Things, Google akan memprioritaskan beberapa tipe chipset system-on-modules (SoMs) berbasis MediaTek MT8516, NXP i.MX8M, Qualcomm Snapdragon 212, serta Snapdragon 624.

Kerja sama ini pun diharapkan dengan peningkatan margin kotor MediaTek dengan kenaikan volume pengapalan SoC non-smartphone.

Adapun alasan kedua perusahaan bekerja sama tak lain karena ingin memperluas ekosistem perangkat Android Things.

Dengan demikian, baik Google maupun MediaTek bisa dibilang akan sama-sama untung jika nantinya chipset ini sudah hadir ke pasar IoT.

Untuk diketahui, Google baru saja mengumumkan kehadiran Android Things versi 1.0 pada gelaran Google I/O 2018 yang dihelat beberapa waktu lalu di Mountain View, Amerika Serikat (AS).

Seperti diketahui, teknologi IoT kini hadir untuk membantu penggunanya terhubung dengan perangkat elektronik yang tak hanya sekadar ponsel atau tablet.

Dengan IoT, pengguna bisa mengontrol perangkat lain melalui ponselnya. Nah, Google ingin memaksimalkan sistem operasi Android bagi pengguna agar lebih mudah memanfaatkan IoT.


Android Things

Seperti dikutip The Next Web, Kamis (15/12/2016), dalam merancang Android Things, Google memanfaatkan layanan dan fitur yang sudah lebih dulu dibuat.

Mereka menggabungkan Brillo, sistem operasi IoT berbasis Android yang sebelumnya dirilis, dengan beberapa layanan, seperti Android Studio, Android SDK, Google Play Services, hingga Google Cloud Platform.

Tujuannya adalah ingin memudahkan para pengembang (developer) dalam membuat perangkat rumahan pintar yang nantinya bisa terhubung ke Android.

Tak hanya itu, Google juga menciptakan dukungan Android Things untuk Weave, platform komunikasi IoT miliknya yang dapat membantu perangkat pintar terkoneksi ke layanan Google dan bisa membuatnya "berbicara" ke perangkat lain, termasuk Google Assistant.

Perusahaan teknologi seperti Philips Hue dan Samsung SmartThings pun telah menggunakan platform Weave.

Google mengatakan, nantinya beberapa perusahaan manufaktur lain, seperti Belkin, WeMo, LiFX, Honeywell, Wink, TP-Link, dan First Alert akan menyusul.

Sebagai tambahan, Google juga menjelaskan pengguna dapat merancang produk dengan dukungan perangkat keras, seperti Intel Edison, NXP Pico, dan Raspberry Pi 3.


Platform loT

Google berharap, hadirnya Android Things dapat menopang perkembangan platform IoT Google untuk ke depanya.

Meski banyak alternatif sistem operasi IoT lain bagi para pengembang, perusahaan yang berbasis di Mountain View itu optimistis, sistem operasinya itu lebih mumpuni ketimbang yang lain karena juga memiliki akses ke layanan cloud.

Android Things kini masih memasuki proses Developer Preview. Untuk lebih lengkapnya, kamu bisa beranjak ke tautan ini.

Sekarang, Google masih membenahi Brillo agar dapat mengajak penggunanya migrasi perlahan ke Android Things.


Referensi:
- https://www.liputan6.com/tekno/read/3527263/google-dan-mediatek-besut-chipset-untuk-perangkat-android-things

Rabu, 09 Mei 2018

Petinggi Facebook di Indonesia Temui Menteri Kominfo

ARSPuja Labs - Petinggi Facebook di Indonesia Temui Menteri Kominfo

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara baru saja melakukan pertemuan dengan perwakilan Facebook Asia Pasifik. Kali ini, Facebook diwakili oleh Vice President of Public Policy Facebook Asia Pacific Simon Milner.

source: Google Images

Dalam pertemuan itu, Rudiantara mengungkap pertemuan kali ini membahas sejumlah hal, termasuk mengenai kasus penyalahgunaan data pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica hingga manajemen konten.

Khusus untuk skandal Cambridge Analytica, Rudiantara mengatakan dirinya meminta Facebook ikut melakukan penyelidikan paralel, meski saat ini investigasi masih dilakukan oleh otoritas Inggris.

"Saat ini Cambridge Analytica sedang diaudit oleh otoritas Inggris. Namun, saya sampaikan tidak bisa hanya menunggu otoritas Inggris, harus mencari apakah ada pihak lain, karena belakangan ada CubeYou dan Aggregate IQ," tuturnya saat bertemu dengan awak media di Jakarta, Senin (7/5/2018).

Ia menuturkan, Facebook dapat melakukan penyelidikan beriringan untuk memastikan agar kasus yang terjadi pada 2014 dengan Cambridge Analytica ini tidak terulang lagi. Pembahasan lain yang dilakukan adalah mengenai manajemen konten negatif.

"Facebook itu baru bisa memenuhi 50 persen dari permintaan (penurunan konten negatif), tapi sekarang sudah naik 68 persen. Jadi, masih ada pekerjaan rumah, bagaimana meningkatkannya. Ini bagian dari evaluasi penilaian Kemkominfo terhadap Facebook dalam penanganan konten negatif," ujarnya menjelaskan.

Terakhir, Rudiantara menuturkan dalam kasus dengan Facebook, Kemkominfo tidak berdiri sendiri. Menurutnya, Kemkominfo fokus ke sanksi administrasi, sedangkan sanksi kriminal itu ada di tangan kepolisian.

"Jadi, saya update sejauh mana mengenai kasus ini. Hal lain yang juga saya ungkapkan adalah kekhawatiran terhadap keterlibatan Facebook dengan kasus Rohingya. Saya sudah membuat pernyataan tegas tak pernah punya keraguan untuk menutup Facebook kalau urusannya provokasi," ujarnya mengakhiri pembicaraan.

Sekadar informasi, CEO Facebook Mark Zuckerberg mengakui platform-nya telah digunakan untuk menyebarkan propaganda anti-Rohingnya di Myanmar. Karena itu, Zuckerberg memastikan pihaknya akan menghentikan penyebaran pesan-pesan negatif tersebut.


Facebook Belum Memberikan Hasil Audit

Untuk diketahui, hingga saat ini ternyata Facebook belum dapat mengungkapkan hasil audit. Alasannya masih sama, pihak otoritas Inggris Information Commissioner Office (ICO) masih melakukan investigasi, sehingga perusahaan belum bisa melakukan penyelidikan.

"Audit ini akan berlangsung hingga benar-benar harus selesai. Saya juga tak bisa memastikan kapan. Kami sendiri masih harus menunggu dari hasil penyelidikan dari ICO," tutur Vice President of Public Policy Facebook Asia Pacific Simon Milner usai melakukan pertemuan dengan Menkominfo Rudiantara di Jakarta, Senin (7/5/2018).

Kendati demikian, ia menuturkan saat ini Facebook juga masih melakukan penyelidikan di dalam layanan untuk mengetahui apakah ada perusahaan lain yang bekerja seperti Cambridge Analytica.

Setelah semuanya itu selesai, Milner memastikan Facebook akan mengungkap hasilnya.

"Kami memiliki tim yang besar untuk audit ini. Namun, perlu diingat kasus ini sebenarnya terjadi pada 2014. Karena itu, untuk sekarang kami juga melakukan penyelidikan apakah ada pihak lain yang diindikasikan melakukan serupa Kogan (Aleksandr Kogan--peneliti Cambridge Analytica)," tuturnya menjelaskan.

Referensi:
https://www.liputan6.com/tekno/read/3508885/petinggi-facebook-temui-menkominfo-bahas-apa-saja

Jumat, 04 Mei 2018

Waspada Pengguna Wifi Gratisan Malware Roaming Mantis Mengancam

ARSPuja Labs - Waspada Pengguna Wifi Gratisan Malware Roaming Mantis Mengancam

Kamu sering menggunakan Wi-Fi publik (gratisan)? Jika ya, sebaiknya mulai berhati-hati dari sekarang. Kaspersky belum lama ini melakukan riset yang mengungkap kalau Wi-Fi publik ternyata berisiko 'menularkan' malware berbahaya bernama Roaming Mantis.

source: telix.pl

Cara kerja malware ini bahkan terbilang mudah seperti menjentikkan jari. Ia menyerang smartphone korban dengan menyusupi router.

Saat smartpone terhubung ke jaringan router Wi-Fi publik yang sudah terinfeksi, malware akan langsung melumpuhkan smartphone korban.

Menurut keterangan Kaspersky Lab yang dirangkum Tekno Liputan6.com pada Jumat (4/5/2018), malware  bekerja dengan cepat dan bisa mencuri informasi pengguna dari smartphone Android-nya.

Para peneliti Kaspersky mengklaim, pihak di balik serangan siber tersebut bertujuan untuk mengais keuntungan finansial dari modus yang mengancam ini.

Lebih lanjut, Kaspersky menjelaskan hacker bisa mencari router yang lemah dengan celah keamanan. Dari situ, mereka akan mendistribusikan malware melalui trik dengan membajak DNS dari router yang diserang. Sayang, metode menyerang router tersebut masih belum diketahui.

Setelah DNS dibajak, saat mengakses situs web, korban akan dialihkan ke tautan yang seolah-olah terlihat asli dengan konten palsu dari server penyerang.

Asumsi selama browser menampilkan URL asli pasti akan membuat pengguna percaya kalau situs yang dikunjunginya juga asli.

Dari situ, korban akan ditampilkan tulisan "Untuk pengalaman browsing yang lebih baik, segera perbarui versi Chrome kamu".

Semakin percaya, korban akan mengeklik tautan yang memicu instalasi aplikasi Trojan dengan nama 'facebook apk' atau 'chrome apk' yang menjadi 'gerbang' terbukanya malware Roaming Mantis.


Pergerakan Malware

Suguru Ishimaru, Security Researcher Kaspersky Lab Jepang, mengklaim Roaming Mantis sebagai ancaman yang aktif dan bahkan bisa cepat berkembang.

Karenanya, Kaspersky mengumumkan hasil temuan tersebut sekarang, ketimbang menunggu pihaknya lebih dulu mendapat semua jawabannya.

"Terdapat motivasi tertentu dari serangan ini, karena itu kami merasa perlu untuk memberitahukan kepada organisasi dan individu akan ancaman ini. Penggunaan router yang telah disusupi dan DNS yang dibajak menunjukkan perlunya perlindungan perangkat yang kuat dan penggunaan koneksi yang aman,” ujar Ishimaru.


Cepat Menyebar

Kaspersky juga mengungkap telah mendeteksi penyebaran malware di lebih dari 150 jaringan yang berlokasi sebagian besar di Korea Selatan, Bangladesh, dan Jepang pada Februari-April 2018.

Analisa perusahaan juga membuktikan telah terjadi ribuan koneksi ke server penyerang secara harian, yang memperlihatkan kemungkinan adanya serangan yang lebih besar.

Selain itu, riset juga memperlihatkan beberapa kode malware yang mengarah ke aplikasi mobile banking dan ID aplikasi gim mobile populer. Indikasi tersebut menunjukkan adanya motif untuk mengambil keuntungan finansial yang besar.


Referensi:
https://www.liputan6.com/tekno/read/3498788/hati-hati-malware-roaming-mantis-incar-korban-yang-sering-pakai-wi-fi-gratisan

Kamis, 03 Mei 2018

Aduh Sudah Lewat 1 Mei Lupa Registrasi Gimana Mengatasi SIM Terblokir?

ARSPuja Labs - Aduh Sudah Lewat 1 Mei Lupa Registrasi Gimana Mengatasi SIM Terblokir?

Hari ini, Selasa (1/5/2018), masa registrasi dan daftar ulang kartu SIM prabayar telah usai. Terhitung pukul 00.00 tadi malam, semua nomor yang belum registrasi bakal diblokir total. Artinya, nomor tersebut tak bisa lagi dipakai untuk menelpon, berkirim SMS, atau mengakses jaringan internet.

source: klimg.com

Langkah tegas ini diambil setelah Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memberikan waktu sekitar enam bulan bagi seluruh pelanggan seluler untuk mendaftarkan kartu SIM prabayar mereka.

Lantas, jika hingga 1 Mei 2018 belum juga sempat mendaftar, apa yang harus dilakukan oleh pemilik kartu SIM prabayar? Satu-satunya cara untuk mengaktifkan kembali nomor SIM prabayar yang diblokir total adalah bertandang ke gerai operator masing-masing.

Jangan lupa untuk membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) sebagai dokumen pendukung.

Pelanggan kartu SIM prabayar tak bisa lagi registrasi mandiri via SMS ke 4444 atau situs resmi operator telekomunikasi. Hal ini tertera dalam surat resmi yang ditandatangani Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), Merza Fachys; dan  Ketua Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Amhad Ramli.

“Pelanggan yang masih ingin menggunakan nomor prabayar seluler (yang belum didaftarkan sampai 1 Mei 2018) dapat menghubungi gerai operator untuk melakukan registrasi,” begitu tertera pada surat tertanggal 30 April itu. Bila ada kesulitan dalam proses registrasi, bisa menghubungi tiga nomor yang dijadikan “Call Center”.

Masing-masing nomor tersebut adalah 0811161653, 081520900999, dan 081294039738. Diketahui, periode pertama registrasi dimulai pada 31 Oktober 2017 hingga 28 Februari 2018. Lewat dari tenggat itu, nomor yang belum mendaftar diblokir sebagian (bisa menelpon dan SMS ke luar, tetapi tak bisa menerima). Selanjutnya, kesempatan kedua diberikan dari 1 Maret 2018 hingga 30 April 2018.

Referensi:
https://tekno.kompas.com/read/2018/05/01/09583887/1-mei-belum-registrasi-kartu-prabayar-harus-bagaimana

Dunia E-Commerce Berduka Ceo TokoBagus Meninggal Dunia

ARSPuja Labs - Dunia E-Commerce Berduka Ceo TokoBagus Meninggal Dunia

Kabar duka cita datang dari dunia e-commerce Tanah Air. Salah satu pendiri toko online Tokobagus.com (kini OLX), Remco Lupker meninggal dunia di Belanda pada hari ini, Rabu (2/4/2018).


source: techinasia.com

Informasi yang diterima oleh KompasTekno, Remco menghembuskan nafas terakhirnya di negeri kelahirannya, Belanda. Dia meninggal setelah berjuang melawan penyakit kanker. “Betul (Remco) meninggal dunia. Kami baru saja mendapat kabar dukanya,” ujar Ketua Bidang Humas Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) Rieka Handayani dalam pesan singkatnya kepada KompasTekno. “Kami turut berduka cita kehilangan salah satu sosok penting industri startup e-commerce yang memberi inspirasi,” imbuhnya.

Mantan CEO OLX, Daniel Tumiwa juga memberi kabar serupa. Menurutnya Remco meninggal dunia pada Rabu pagi waktu Belanda. “Betul meninggal jam 10 pagi waktu Belanda. Sudah hampir tiga tahun dia berjuang melawan kanker,” ujarnya saat dihubungi secara terpisah.

Kiprah Remco dan Tokobagus di dunia e-commerce sudah mulai jauh sebelum industri tersebut ramai oleh banyak pemain. Bahkan bisa dikatakan situs e-commerce yang didirikannya bersama dengan Arnold Sebastian itu merupakan salah satu pionir. Remco dan Arnold mendirikan Tokobagus.com pada 2005 silam, lalu membesarkannya hingga menjadi dikenal begitu banyak orang. Lalu pada 2012, ketika nama situs e-commerce itu sedang harum-harumnya, Remco memutuskan untuk meninggalkannya.

Dua tahun setelahnya, Tokobagus diambil alih oleh OLX dan namanya secara resmi berubah. OLX sendiri merupakan merek e-commerce global yang dimiliki oleh Naspers. Adapun Naspers sudah berinvestasi di Tokobagus sejak 2010, hingga akhirnya memasukkan perusahaan e-commerce itu ke dalam Grup OLX.

Pihak OLX Indonesia pun memberikan ucapan bela sungkawa atas meninggalnya Remco sebagai pendiri cikal bakal OLX. "Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Remco adalah sosok yang visioner. Beliau meninggalkan legacy yang sangat berharga bagi kami dalam membentuk dan mengembangkan industri iklan baris online, di Indonesia," ujar PR Manager OLX Indonesia, Amelia Virginia.


Referensi:
https://tekno.kompas.com/read/2018/05/02/21554877/pendiri-tokobagus-remco-lupker-meninggal-dunia.

Kamis, 19 April 2018

Sering Login di Aplikasi Menggunakan Akun Facebook Sekali Klik? Awas Berbahaya!

ARSPuja Labs - Sering Login di Aplikasi Menggunakan Akun Facebook Sekali Klik? Awas Berbahaya!

Zaman sekarang orang-orang sudah malas membuat akun baru di sebuah aplikasi atau situs. Untungnya, sekarang mereka tinggal login menggunakan akun Facebook mereka.


source: wp.com

Mudah sekali bukan? Sayangnya, Facebook jadi dapat memanen data kita di situs-situs tersebut, meskipun saat itu pengguna sudah logout dari Facebook.

Dilansir Newsroom FB, Rabu (18/4/2018), pihak Faceboook mengaku menggunakan miliaran data penggunanya untuk menyajikan konten dan iklan yang cocok dengan pengguna.

"Aplikasi dan situs yang memakai layanan kita, seperti tombol Like dan Facebook Analytics, mengirimkan kami informasi (data) untuk meningkatkan kualitas konten dan iklan yang lebih baik," tulis Facebook.

Namun, pihak Facebook mengungkapkan mereka tidak sendirian dalam hal ini, karena layanan lain seperti Google pun memiliki layanan analisa populer yang berfungsi serupa terkait periklanan.

"Dan Amazon, Google, dan Twitter semua memiliki fitur login. Perusahaan-perusahaan itu, dan banyak lainnya, juga menawarkan layanan iklan," lanjut laporan itu.

Penjelasan Facebook memang berbelit-belit, tapi intinya Facebook akan tahu situs atau aplikasi yang sedang kita pakai, serta konten dari situs itu, bila kita login dengan layanannya.

Untuk diketahui, Facebook memiliki monthly active users (MAUs) atau pengguna aktif bulanan mencapai 2,13 miliar--naik 14 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara untuk daily active users (DAUs) atau pengguna aktif harian rata-rata 1,4 miliar.


Mark Zuckerberg Mengklarifikasi Tidak Akan Menjual Data

Facebook kembali menegaskan mereka tidak menjual data pengguna, tetapi kenyataannya data pengguna memang dipakai untuk disesuaikan dengan iklan yang muncul di Facebook pengguna, sehingga timbul kesan memata-matai yang dilakukan Facebook.

Facebook justru mengaku menggunakan data yang mereka peroleh dari situs lain untuk membantu pengguna, mulai dari di setelan bahasa, sampai membantu menganalisa pengunjung situs dan aplikasi, seperti gender dan usia.

Facebook turut berkata data-datanya yang didapatkan digunakan untuk melindungi pengguna, jadi bila ada IP address yang berasal dari negara lain untuk login ke akun Facebook seseorang, maka pengguna bisa diberitahukan.

Untuk masalah iklan, bila pengguna berkunjung ke situs travel, maka Facebook bisa mengetahui dan menawarkan iklan-iklan terkait hotel dan mobil sewaan.

Itulah yang menyebabkan mengapa saat kita mencari produk di sebuah situs, tiba-tiba iklan produk serupa muncul di Facebook.


Niat Facebook Baik, Namun Pengguna Sering Dirugikan

Seperti yang sebelumnya dibahas, apabila sedang mencari produk di situs lain, lalu kemudian iklan serupa muncul di akun Facebook, itu disebabkan karena platform media sosial tersebut mendapatkan data lewat layanan mereka.

Mungkin niat Facebook memang baik, tetapi itulah yang justru membuat takut orang banyak, sebab ada kesan Facebook sedang mematai-matai aktivitas online seseorang.

CEO Facebook Mark Zuckerberg berujar penggunaan iklan di Facebook dilakukan agar layanan media sosial tersebut tetap gratis, dan memakai iklan adalah satu-satunya jalan yang realistis bila tidak ingin Facebook berbayar.


Referensi:
https://www.liputan6.com/tekno/read/3463377/terungkap-ini-risiko-login-situs-web-atau-aplikasi-lain-pakai-facebook

Indosat Ooredoo di 2018 Terus Kembangkan Jaringan 4G Habiskan Dana Rp 6,4 Triliun

ARSPuja Labs - Indosat Ooredoo di 2018 Terus Kembangkan Jaringan 4G Habiskan Dana Rp 6,4 Triliun 

Indosat Ooredoo bakal makin menggeber jaringan 4G di luar Jawa. Kali ini, operator seluler itu menggeber jaringan 4G di seluruh Lampung. Untuk memuluskan rencana pengembangan jaringan 4G termasuk di luar Jawa, Indosat Ooredoo menggelontorkan dana sebesar Rp 6,4 triliun.


source: lemoot.com

Angka tersebut merupakan 80 persen dari total anggaran modal (capital expenditure/capex) Indosat Ooredoo yang mencapai Rp 8 triliun pada tahun 2018 ini.

President Director dan CEO Indosat Ooredoo, Joy Wahjudi mengatakan, Indosat Ooredoo serius melakukan ekspansi bisnis inti yakni mengembangkan telekomunikasi di Indonesia.

"Untuk mendukung komitmen ini, kami telah menambah capex tahun ini menjadi Rp 8 triliun, di mana 80 persen di antaranya digunakan untuk investasi jaringan," kata Joy di Kota Lampung, Rabu (18/4/2018).

"Hal ini mencerminkan keseriusan kami dalam melakukan ekspansi dan meningkatkan kualitas jaringan Indosat Ooredoo di seluruh Indonesia."

Investasi 80 persen dari anggaran belanja modal ini, kata Joy, akan digunakan untuk layanan LTE, voice, dan data.

Sementara, 20 persen dari anggaran belanja modal yang sebesar Rp 1,6 triliun akan digunakan untuk mendukung operasional perusahaan, termasuk untuk mengembangkan komponen IT.


Upaya Meningkatkan Kualitas Layanan

Joy juga menuturkan, penambahan nilai investasi ini akan semakin efektif dengan keberhasilan perusahaan menjadi salah satu pemenang lelang frekuensi 2.1GHz yang diharapkan dapat mendukung upaya meningkatkan kualitas layanan bagi pelanggan.

Dia menambahkan, untuk mendukung ekspansi dan strategi ke depan, Indosat Ooredoo akan terus menambah jumlah BTS dan meningkatkan layanan kepada pelanggan.

Sekadar informasi, di tahun 2018 Indosat Ooredoo menggeber layanan 4G di luar Jawa. Salah satu yang sudah hadir adalah di Lampung.

Berikutnya hingga akhir tahun, Indosat Ooredoo berencana akan memperluas jaringan 4G di satu wilayah Sumatera, satu wilayah Kalimantan, dan dua wilayah Sulawesi.


Referensi:
https://www.liputan6.com/tekno/read/3466727/indosat-ooredoo-investasikan-rp-64-triliun-untuk-geber-4g-di-2018

Rabu, 18 April 2018

AS dan Inggris Peringatkan Serangan Siber Global, Rusia Dalang Hacker?

ARSPuja Labs - AS dan Inggris Peringatkan Serangan Siber Global, Rusia Dalang Hacker?

Amerika Serikat (AS) dan Inggris memeringatkan potensi serangan siber global yang menargetkan router, pemancar, dan perlengkapan jaringan lainnya. Peringatan ini dikeluarkan demi  membantu target hacker untuk melindungi diri.

source: .jalantikus.com

"Kami tak punya pandangan secara mendalam terhadap cakupan serangan itu," kata pejabat keamanan siber Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS, Jeanette Manfra.

Kedua negara adidaya ini menyalahkan dukungan pemerintah Rusia kepada hacker yang bekerja untuk agen pemerintah, pebisnis, dan operator infrastruktur penting.

Peringatan juga diklaim tidak berhubungan dengan dugaan serangan senjata kimia di Suriah.

Diwartakan Gulf News, Kremlin tak merespons tuduhan serangan siber itu. Sementara itu, Moskow membantah tuduhan telah melakukan serangan siber ke AS dan negara lainnya.

Meski begitu, peringatan yang dikeluarkan Senin 16 April 2017 itu tetap menuai kritik. Beberapa pakar keamanan siber swasta mengkritik pemerintah AS yang terkesan lamban merilis informasi.

Seorang pejabat senior AS, yang enggan disebut namanya, mengatakan bahwa serangan siber Rusia dalam beberapa tahun terakhir memiliki keunikan. "Serangan ini lebih sulit dilacak dan dideteksi," kata pejabat itu.

Washington dan Inggris yang menerbitkan peringatan bersama ini juga mengatakan, serangan siber global tersebut telah dilakukan sejak 2015 dan dapat meningkat seiring serangan yang terjadi.


Negara Rusia dan Virus NotPetya

Kecurigaan serangan siber itu sebetulnya telah muncul dua bulan setelah AS dan Inggris menuduh Rusia melakukan serangan virus NotPetya pada 2017.

Serangan virus NotPetya berdampak pada lumpuhnya sebagian infrastruktur Ukraina dan merusak komputer seluruh dunia.

Koordinator Keamanan Siber Gedung Putih, Rob Joyce, mengatakan, serangan itu memengaruhi berbagai organisasi, termasuk penyedia layanan internet dan perusahaan swasta.

"Ketika kami melihat serangan maya yang berbahaya, baik itu dari Kremlin atau negara lain, kami akan menyerang balik," pungkas Rob.


Jerman Tuding Rusia Sebagai Dalang Serangan Siber

Setelah terjadi serangan siber ke sistem pemerintah Jerman pada akhir Februari 2018, sekarang Jerman mulai berani menyebut nama Rusia sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Keterlibatan Rusia diungkapkan sendiri oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Jerman Heiko Maas.

"Kami sempat mendapat serangan di Kementerian Luar Negeri, serangan itu kami asumsi berasal dari Rusia," ucap Maas, seperti dilansir Reuters, Senin (16/4/2018).

Sebelumnya, Jerman digempur serangan siber pada akhir Februari 2018. Serangan siber tersebut terbilang kuat dan berlangsung terus-terusan, bahkan berhasil menembus jaringan komputer Kementerian Luar Negeri Jerman. Alhasil, para pegawai pun harus bekerja keras menanggulangi efek serangan.

Pihak kementerian pada awalnya menolak memberikan komentar, tapi media Jerman dan pakar keamanan menuding kelompok hacker Rusia sebagai dalang dari serangan.

Sementara itu juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyanggah tudingan itu.

"Kami dengan menyesal mencatat bahwa setiap serangan hacking di dunia pasti dihubungkan dengan hacker Rusia, tapi tiap kali menuduh mereka tidak punya bukti nyata," ucap Peskov.

Kelompok Rusia yang dituduh adalah Fancy Bear yang memang sering dituding melakukan serangan siber dengan motif politik terhadap banyak negara.


Referensi:
https://www.liputan6.com/tekno/read/3462987/hacker-merajalela-as-dan-inggris-peringatkan-serangan-siber-global

DPR Minta Kemkominfo Tutup Facebook Sementara di Indonesia

ARSPuja Labs - DPR Minta Kemkominfo Tutup Facebook Sementara di Indonesia

Kasus penyalahgunaan data lebih dari satu juta pengguna Facebook Indonesia membuat perwakilan jejaring sosial tersebut dipanggil oleh Komisi I DPR RI, Selasa (17/4/2018).

source: szeretlekmagyarorszag.hu

Facebook dicecar oleh anggota Komisi I DPR RI terkait keamanan data selama kurang lebih lima jam. Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama DPR RI itu, Facebook diwakili oleh Kepala Kebijakan Publik Facebook Indonesia Ruben Hattari dan Vice President of Public Policy Asia Pacific Simon Milner.

Usai RDPU yang berlangsung di Ruang Rapat Komisi I DPR RI itu, Anggota Komisi I DPR RI Meutya Hafid mengatakan, akan menyarankan opsi penghentian sementara (moratorium) layanan Facebook di Indonesia jika perusahaan besutan Mark Zuckerberg itu lambat memberikan respon atas permintaan pemerintah RI.

"Karena kami dengar dari pihak pemerintah juga, audit yang diminta pemerintah belum diberikan oleh pihak Facebook."

Ia menambahkan, "Karena itu, menurut saya pemerintah patut mempertimbangkan moratorium jalannya Facebook di Indonesia sampai ada investigasi menyeluruh atau perbaikan menyeluruh oleh Facebook."

Ia mengatakan, pemerintah tidak boleh takut melakukan penghentian sementara layanan Facebook di Indonesia. "Opsi ini harus dibuka pemerintah, pernah memberlakukan penghentian sementara layanan Telagram dan Telegram berkomitmen, akhirnya dibuka lagi. Kenapa dengan Facebook kita tidak bisa melakukan itu," ujar Meutya.

Penghentian Sementara Facebook

Adapun moratorium yang dimaksud Meutya adalah menghentikan layanan Facebook hingga hasil audit investigasi terkait penyalahgunaan data yang diminta pemerintan diberikan oleh pihak Facebook.

"Catatan hasil RDPU ini nanti ketika ada rapat kerja dengan pemerintah, akan kami sampaikan. Komisi I mengapresiasi Facebook atas permintaan maafnya, tetapi itu tidak cukup. Harus ada komitmen untuk perbaikan," ujar Meutya menegaskan.

Senada, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Hanafi Rais menyebut akan memanggil pihak Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) untuk membicarakan masalah penyalahgunaan data pengguna Facebook di Indonesia.

"Kami ingin mendengar dari Menkominfo karena masalah ini sudah luar biasa dan terkait dengan jutaan orang Indonesia. Pemerintah juga harus lebih responsif. Artinya kalau Facebook lambat, Kominfo kita minta untuk lebih tegas lagi," ujarnya.

Referensi:
https://www.liputan6.com/tekno/read/3463376/dpr-desak-kemkominfo-tutup-facebook-sementara

Selasa, 10 April 2018

Pengguna Facebook Messengger? Awas Hati Hati Ini Alasannya

ARSPuja Labs - Pengguna Facebook Messengger? Awas Hati Hati Ini Alasannya

Ada banyak cara untuk mengirimkan pesan instan secara gratis ke teman dan keluarga. Pengguna bisa memilih aplikasi mulai dari BBM, WhatsApp, Skype, Google Hangouts, Sinyal, Telegram, dan lain-lain. Namun dari semuanya, yang paling parah adalah Facebook Messenger.

source: liputan6.com

Semua tahu aplikasi pesan milik Facebook itu cukup masif digunakan, kini sudah dipakai oleh 1,2 miliar pengguna. Banyak orang meng-install Messenger di smartphone-nya. Kendati begitu, hal tersebut justru merupakan masalah utama dari Messenger.

Bagaimana tidak, baru-baru ini diungkapkan, Facebook bisa memindai seluruh kotak masuk Messenger penggunanya, suka atau tidak pengguna terhadap hal tersebut.

Laporan Business Insider Singapura yang Tekno Liputan6.com kutip Senin (9/4/2018), bagi Messenger, pengguna merupakan tawanan alih-alih dianggap sebagai pelanggan yang perlu dipuaskan dan diperjuangkan.

Hal tersebut lantaran pesan pengguna yang dikirim lewat Facebook Messenger merupakan hak Facebook, dan tidak lagi pribadi. Pasalnya, perusahaan yang juga memiliki WhatsApp dan Instagram itu telah mengumpulkan data riwayat panggilan dan SMS pengguna, sekalipun itu di luar aplikasi Messenger.

Pengumpulan data riwayat panggilan milik pengguna dilakukan selama bertahun-tahun dan baru berhenti Maret 2018 setelah berbagai media mempublikasikan hal tersebut.

Facebook pun berkilah pihaknya tidak mencuri, melainkan penggunalah yang memberikan izin untuk mengakses daftar kontak mereka.

Menyadari hal itu, sebaiknya pengguna menarik kembali izin yang diberikan ke Facebook . Rasanya tidak masalah berhenti memakai Messenger, apalagi di luar sana masih banyak aplikasi pesan lain yang mungkin saja lebih menjaga privasi pengguna.

Business Insider Singapura justru menyarankan pengguna untuk menghapus aplikasi Messenger dari smartphone, mematikannya, dan pilih aplikasi lain yang tidak menyalahgunakan kepercayaan pengguna.


Facebook melakukan Scan seluruh data messaging

Facebook tampaknya menganggap diri mereka sebagai pemindai komunikasi terorisme yang berupaya menjadikan dunia lebih baik. Hal ini bermula dengan konflik yang terjadi di Myanmar.

"Saya ingat, pada sebuah Sabtu pagi, saya mendapat panggilan dan kami --di Facebook-- mendeteksi ada pihak yang mencoba menyebarkan pesan sensasional melalui Facebook Messenger untuk memulai konflik," kata Zuckerberg dalam wawancaranya.

Dia pun mengatakan, dalam kasus tersebut sistem Facebook telah berhasil mendeteksi sebuah kejadian. "Kami menghentikan pesan tersebut," kata dia.

Padahal menurut LSM di Myanmar, Facebook tidak mendeteksi pesan tersebut, justru peringatan yang diperoleh Zuckerberg datang dari kelompok masyarakat sipil.


Facebook Messengger Tidak Dilengkapi Dengan Enkripsi

Kenyataannya, Facebook Messenger tidak memiliki backdoor yang bisa dibobol. Aslinya Messenger malah mengirim dan menerima pesan tanpa enkripsi.

Artinya, server Facebook mengirimkan berbagai obrolan yang pernah dikirim dan diterima oleh pengguna. Hal inilah yang membuat pihak Facebook begitu mudah mengakses dan memindai pesan-pesan tersebut.

Alih-alih memiliki enkripsi pesan seperti BBM, WhatsApp, atau iMessage, Messenger justru sengaja memindai semua pesan pengguna. Apple terang-terangan enggan mendapatkan informasi apapun tentang komunikasi penggunanya.


Referensi:
https://www.liputan6.com/tekno/read/3437781/setop-pakai-facebook-messenger-ini-alasannya

Pendiri Apple Terlanjur Boikot Facebook Ini Komentar Pedasnya

ARSPuja Labs - Pendiri Apple Terlanjur Boikot Facebook Ini Komentar Pedasnya

Meski Facebook lambat laun mulai berbenah setelah skandal penyalahgunaan data pengguna, ternyata telah ada beberapa orang yang telanjur kecewa karena perusahaan itu lalai dalam mengelola data penggunanya.


source: techcentral.co.za

Salah satunya adalah Co-Founder Apple, Steve Wozniak, yang mengaku memilih berhenti mengguna Facebook. Kepada USA Today, ia mengatakan menaruh perhatian pada cara Facebook dan perusahaan serupa lain yang ceroboh dalam mengelola data pribadi penggunanya.

Bahkan, pria yang keluar dari Apple pada 1985 ini mengatakan lebih memilih untuk membayar saat memakai Facebook agar data pribadinya tak dikumpulkan. Ia juga melakukan hal tersebut agar tak ada lagi iklan yang muncul di media sosial besutan Mark Zuckerberg itu.

"Pengguna menyediakan tiap detail kehidupannya ke Facebook dan mereka membuatnya menjadi uang dengan iklan. Keuntungan itu berasal dari informasi pengguna, tapi pengguna tak mendapatkan keuntungan apa-apa," tuturnya, seperti dikutip dari Phone Arena, Senin (9/4/2018).

Ia pun tak segan membandingkan Facebook dengan Apple, perusahaan tempatnya pernah bernaung. Menurut Wozniak, kedua perusahaan itu mengambil keuntungan dengan cara berbeda.

"Apple menghasilkan uang dari produk bagus, bukan dari kamu. Sementara untuk Facebook, kamulah produknya," tuturnya. Pandangan Wozniak ini senada dengan pernyataan CEO Apple Tim Cook beberapa waktu lalu.

Ketika itu, Cook mengatakan skandal penyalahgunaan Facebook merupakan hal yang sangat mengerikan. Ia menyebut perlu adanya regulasi yang dibuat dengan sungguh-sungguh agar kasus serupa tak kembali terjadi.

"Saya pikir dalam situasi tertentu masalah semacam ini sangat mengerikan dan menjadi besar, sehingga perlu ada regulasi yang dibuat dengan baik," tuturnya.

Ia pun menyebut privasi sebenarnya adalah hak asasi, sehingga ia sangat peduli dengan cara pengiklan dan orang lain mendapatkan akses ke data pribadi.


Celotehan Bos Apple Mengenai Facebook

Di kesempatan yang lain, Cook pun sempat membandingkan cara kerja perusahaannya dengan Facebook. Ia pun sempat menjelaskan, Apple sangat melindungi data para pelanggan.

"Faktanya adalah kami bisa saja menghasilkan banyak uang bila menguangkan pelanggan kami andaikan mereka kami jadikan produk. Kami memilih untuk tidak melakukannya," tukas Cook.

Cook juga ditanya apa yang akan dia lakukan andaikan ia berada di posisi Mark Zuckerberg.

"Saya tidak akan jatuh ke situasi tersebut (kebocoran data)," jawab Cook.

Tim Cook memang sejak lama mengampanyekan perlindungan data. Sebelumnya, ia sempat mengkritik layanan-layanan gratis yang ternyata menyetor histori pencarian dan data-data lainnya agar dijual untuk tujuan iklan.


Balasan Mark Zuckerberg

Di sisi lain, CEO Facebook Mark Zuckerberg pun membalas komentar Cook tersebut. Dalam wawancara dengan Vox, Zuckerberg membantah argumen Cook dengan menyebut pendapat itu tidak tulus dan sangat dangkal.

"Anda tahu, saya melihat pendapat tersebut dan jika Anda tidak membayar, entah bagaimana kami tidak peduli dengan Anda. Itu sangatlah tidak benar dan tidak selaras dengan kebenaran," kata Zuckerberg.

Zuckerberg mengatakan, Facebook masih menghadirkan layanan secara gratis karena berfokus menghubungkan orang dan banyak orang tidak mampu membayar. Oleh karena itu, Facebook menggantungkan keuntungan dari pendapatan iklan.

"Dengan menggantungkan keuntungan dari iklan, itu adalah model paling rasional sehingga bisa mendukung layanan kami untuk menjangkau banyak orang," kata Zuckerberg.

Suami Priscilla Chan ini juga menyindir Cook. "Jika Anda ingin membangun layanan yang tidak hanya berlaku untuk orang-orang kaya, Anda harus menghadirkan produk yang bisa dijangkau oleh banyak orang," kata Zuckerberg.


Referensi:
https://www.liputan6.com/tekno/read/3438687/skandal-kebocoran-data-menyeruak-pendiri-apple-pilih-matikan-facebook

Penyalahgunaan Sistem Registrasi Nomor Prabayar Dengan NIK KTP

ARSPuja Labs - Penyalahgunaan Sistem Registrasi Nomor Prabayar Dengan NIK KTP

Masih ingat dengan peraturan pemerintah mengenai registrasi sim card dengan NIK dan KTP?

Program registrasi kartu SIM prabayar tidak berjalan dengan baik. Salah satunya indikasi kuat penyalahgunaan Nomor Induk Keluarga (NIK), yang digunakan untuk jutaan nomor telepon prabayar.

source: liputan6.com

Berdasarkan data yang diungkapkan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Panja Pengamanan Data Pribadi Komisi I DPR RI, pada hari ini, Senin (9/4/2018), terungkap ada 15 NIK terbanyak yang digunakan nomor prabayar untuk registrasi kartu SIM.

Rekor angka paling besar saat ini dipegang sebuah NIK, yang digunakan untuk daftar 2,2 juta nomor prabayar Indosat Ooredoo.

Menanggapi data ini, Komisi I pun meminta operator seluler, terutama Indosat untuk dipanggil dan dimintai keterangan secara langsung.

“Panggil saja Indosat, kenapa mereka mengabaikan ada dua juta nomor itu. Ini berarti ada indikasi Indosat melakukan (penyalahgunaan data),” tutur anggota Komisi I DPR, Evita Nursanty, dalam RDP di gedung DPR, Senin (9/4/2018).

Hal serupa juga disampaikan anggota Komisi I DPR, Budi Youyastri. “NIK bisa sampai dua juta, itu berarti dilakukan secara masif. Tolong dibuka siapa yang melakukannya,” ujarnya.


DPR Himbau Pemerintah Perketat Peraturan

Untuk membuat program registrasi kartu SIM berjalan lancar dan tanpa kasus penyalahgunaan data, DPR pun meminta pemerintah agar menerapkan aturan harus ada pembatasan nomor telepon yang didaftarkan.

Selama ini, masyarakat bisa mendaftarkan satu NIK untuk tiga nomor telepon melalui SMS, tapi jika mendaftar di gerai operator, tidak ada batasan.

“Seharusnya ada pembatasan nomor handphone yang didaftarkan. Saya mengusulkan ada cross check, jadi pengguna tahu berapa banyak data mereka yang didaftarkan,” jelas anggota Komisi I, Biem Triani Benyamin.

Ini bukan kali pertama masalah satu NIK digunakan banyak nomor sekaligus.

Pada bulan lalu, diketahui terdapat penggunaan satu NIK yang didaftarkan untuk 50 nomor prabayar Indosat Ooredoo. Saat itu, si pemilik NIK dan KK mengaku tidak pernah mendaftarkan hingga 50 nomor.

Referensi:
https://www.liputan6.com/tekno/read/3439092/penyalahgunaan-1-nik-didaftarkan-2-jutaan-nomor-prabayar-terungkap